Wisedan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for April 2009

Samun Sawung Mangsi

leave a comment »

Namanya Samun Sawung Mangsi. Tebak darimana asalnya. Kau tak akan pernah tahu pasti. Nenekmoyangnya sudah bercampur baur seperti gado-gado.
“Nenek moyangku pelaut..”
Samun berkata suatu ketika..
“Seperti lagu anak-anak maksud kau?”

Namanya berasal dari zaman yang jauh. Majapahit di masa jaya, atau Sriwijaya dan Samudera Pasai yang menguasai lautan pantai timur Swarnadwipa. Nama-nama Sanskrit seperti Meurongmahawangsa, nama Sultan Samudra Pasai… Hayamwuruk.. Kusumawardhana, Brawijaya.. Siliwangi.. nama-nama yang khas. Nama yang berbau lada, pala, cengkeh dan ganja. Aroma khas nusantara.

“Kau suka isap ganja?”
Suatu ketika Samun bertanya.
“Ganja merusak kesehatan, melanggar hukum. Bisa ditangkap polisi nanti.”
“Itulah kau.. berfikir dalam pola yang udah dibuat orang asing. Kau tau, tiap bangsa di dunia ini mabuk dalam tradisinya sendiri. Ganja adalah peradaban nusantara. Raja-raja Samudera Pasai menghisapnya dulu untuk relaksasi.”

“Aku gak suka dengan nama Arab, Latin, dan Barat.. mereka kolonialis. Kita perlu memelihara budaya leluhur..Nama Arab, Latin, dan Barat itu beraroma kebab, nasi kebuli, keju, kentang goreng dan wine. Tidak cocok di sini..”

“Nama kau Jabat Erat, bolehlah..”
Ia menunjuk Jabat, yang tidak terlalu peduli dengan ocehan Samun.
“Felixus Minimus.. payah. Impor.. tak punya jatidiri. Nama Latin, wajah melayu. Hibrid tak jelas seperti kucing kampung di kandang kucing persia”
Seperti biasa Felix hanya tertawa..
“jangan begitu, Sam. Bagiku gak ada itu jatidiri.. semuanya mengambang. Identitas datang dan pergi per jam.. gak ada yang pasti.. berubah tiap saat.”
“gak da… gak da… gakda…” tiba-tiba Felix berkata sambil tertawa riang..

Written by wisedan

April 30, 2009 at 10:01 am

Ditulis dalam Uncategorized

The Management Impostor

leave a comment »

“Buteeeet! Buteeet!”
“Ya Pah? Ada apa Pah?”
“Katanya si Kroco pacarmu itu mau datang malam ini? Mana dia?”
“Papah, kok Kroco sih? Namanya kan Bronco. Iya Pah, sebentar lagi. Katanya. Macet di jalan.”
“Macet? Bah!Sejak kapan motor kena macet di jalan? Kan tinggal selip sana selip sini kayak tikus di rumah kita nyelip-nyelip di antara perabot? Macet? Nei nei, emangnya si Kroco itu naik mobil? Dua kali kerja sampai pensiun di tempatnya yang sekarang pun nggak akan dia bisa beli mobil.”
“Papah! Kok Papah sinis sekali sih! Jangan gitu, dong, Pah.”
“Butet, Butet, Butet… Boleh kan Papah berusaha melindungi putri Papah yang cantik satu-satunya? Wajahmu itu kayak bintang film top Amerika tahun 70an, Elizabeth Pandjaitan. Banyak yang naksir kamu. Papah bisa menjodohkan kamu dengan anak rekan-rekan Papah, yang sederajat dengan kita. Kenapa kamu malah sama kodok itu? Kau cium pun tak akan jadi pangeran dia…”
Si Ibu datang menghampiri.
“Papahmu benar, Butet si Kroco itu kan cuma pegawai kecil level Unyil. Gajinya pun sontoloyo, nggak kelas kalau dibandingkan dengan kita yang masih keturunan bangsawan. Coba kau lihat calon-calon usulan Mamah… Ada yang RM, KGPAA, KRMT, KRD, KRL, bahkan KDRT. Kamu tinggal pilih. Kamu benar2 yakin sama dia?”
“Pokoknya Butet udah cinta mati sama Bronco! Dan ingat Mah, Pah! Menurut Butet, Bronco orang yang berpotensi kok, Mah. Sekarang mungkin dia terlihat payah di mata Mamah Papah. Tapi Butet yakin dia akan jadi orang besar di kantornya nanti. Buktinya saja sekarang sudah sering dia ditunjuk jadi Pic (Person in charge) acara ini acara itu.”
Si Mamah dan Si Papah berpandangan. Geleng-geleng kepala.
“Okelah. Terserah kaulah. Tapi jangan bilang Mamah belum memperingatkan kamu, Butet!”

Tiga puluh menit berselang…

Sebuah sedan futuristik keluaran baru memasuki halaman rumah sesudah dibukakan pintu oleh Pinem. Si Mamah, yang sedang membaca novel di gazebo, mengernyitkan keningnya. Siapa sih kok mobilnya bagus bener.

Si Mamah tidak bisa melihat siapa orang di dalam mobil itu lantaran kaca filmnya yang gelap. Sejenak kemudian, pintu pengemudi mobil itu terbuka, dan sebuah sepatu mengkilap bak cermin pun turun menjejak tanah. Pengemudi mobil itu berpakaian rapih lengkap dengan jas dan dasinya. Si Mamah yang tidak dapat lagi menahan rasa ingin tahunya memelototkan mata minusnya ke mobil itu dan …

“ASTAGA? Benar kau itu Bronco?!?”
Bronco melepas kaca mata hitamnya, lalu berjalan menuju si Mamah. Bak gaya Andy Lau di film mandarin, Bronco tampak begitu gagah ketika langkah kakinya yang cool dalam slow motion ditingkahi oleh angin yang berhembus melayangkan jas dan dasinya. Bagai superman yang berjalan dengan jubahnya…
“Benar, Tante.”
“Wuuuaaaaaaahhhhhhhh. K-k-k-kau… sudah bawa mobil sekarang?”
“Iya tante. Saya baru saja dipromosikan”
“Lalu k-k-kau langsung dikasih mobil ini?” ujar si Mamah sambil mengamati mobil baru itu dari depan sampai belakang, lalu ke depan lagi. Kayak setrikaan.
“Betul, Tante”
“Wooooooooooooooooooooooooow. Assyyyyiiikkk dooongg! Bagus juga nih buat ke gereja!” Si Mamah berbinar-binar.

Tak lama si Papah menghampiri mereka berdua.
“Ada apa ini?” Tanyanya dengan wajah menyelidik sinis.
“Pah, pah! Tahu nggak pah, Nak Kroco eh Bronco ini baru aja diangkat jadi supervisor di kantornya. Langsung megang mobil dia pah! Nih mobilnya, nggak pake konci pah, tinggal dipencet aja udah jalan… waaaahhh bagus ya fasilitasnya!”
Si Papah melongo.
“Heeeeeeebaaat kau Bronco!” Sambil menepuk bahu Bronco dengan keras sampai Bronco terhenyak ke depan. Tapi Bronco menguasai diri dan tersenyum balik.
“Ah, biasa aja kok Om, Tante…”.

Kegalakan Si Papah mendadak sirna, berganti dengan senyuman lebar yang semakin mengembang ketika ia menjabat tangan Bronco.
“Yuk masuk ke rumah, minum teh sama Om dan Tante. Si Butet sudah menunggu di dalam. Mari, Nak. Ayo.”
Dan ketika Bronco berjalan di depan mereka, Si Papah membisik Si Mamah.
“Ternyata tidak salah si Butet memilih calon suami, Mah. Papah yakin karir dia akan terus meningkat, dan pada suatu hari nanti dia akan lebih dari sekedar supervisor, mungkin dia bisa menjadi brand manager atau branch manager atau bahkan AMD”
Si Mamah pun tersenyum bahagia memeluk Si Papah.

Written by wisedan

April 30, 2009 at 6:44 am

Ditulis dalam Uncategorized

TOO LITTLE, TOO LATE

leave a comment »

Motor yang dikendarai anak ingusan di bawah umur itu melaju dengan kecepatan rendah. Arahnya ke kanan, namun lampu sign-nya tidak menyala, entah karena rusak, atau karena si bocah tidak menyalakannya. Tidak apa-apa. Motornya jelas-jelas menyerong 45o ke kanan.

Di belakang motor itu, sebuah mobil berisi tiga orang Hamba Tuhan (Driver: Samun Sawung Mangsi, Navigator: Felixus Minimus, dan Penumpang: Jabat Erat Simanjuntak) yang melakukan perjalanan untuk mencari sesuap nasi melaju dengan kecepatan yang kian lama kian kencang, seolah meniadakan eksistensi motor di depannya sampai ke level nisbi. Sang pengemudi mobil sama sekali tidak mengklakson, sama sekali tidak melepas gas, apalagi mengerem, bahkan ketika motor si bocah sudah di ujung hidung mobilnya!

Kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak.

Terdengar bunyi benturan dan gesekan ketika sisi kiri mobil itu menyerempet bagian depan motor itu, lalu terdengar dentingan nyaring logam, karet, dan plastik beradu dengan aspal. Motor itu, beserta bocah pengendaranya, terpelanting jungkir balik di atas aspal siang hari yang panas.

Bunyi yang keras itu membuat puluhan kepala yang kebetulan sedang berada di pinggir jalan berpaling. Mereka mendapati sebuah sepeda motor dengan pengendaranya yang masih di bawah umur terkapar di tengah jalan, sementara mobil yang dari lecet-lecetnya tampaknya baru menyerempet sepeda motor itu, walau melambat tidak menghentikan lajunya. Seperti ragu memilih antara berhenti dan lari.

Beberapa orang baru saja hendak mengejar dan mencegat mobil itu, ketika lagi-lagi terdengar suara benturan dan gesekan. Suara itu ternyata berasal dari mobil “tersangka”. Rupanya sehabis menyerempet motor korban, mobil “tersangka” itu menabrak trotoar.

Beberapa orang meneriaki sang pengemudi mobil, “Minggir, Pak! Mundurkan mobilnya, lalu pinggirkan! Tolong tanggung jawak, Pak, urus korban serempetan Bapak!”

Dan baru pada saat itulah sang navigator, Felixus Minimus –yang dari tadi duduk di sebelah sang pengemudi mobil dengan tenang– angkat bicara.

“Sam, tadi itu, terlalu kencang kau bawa mobil ini”.  Dengan gaya kalem, Felixus memberi tahu Samun, “…makanya kau menabrak motor itu, dan sesudah itu, kau menengok pula ke belakang, padahal di depan kita ada trotoar.”

Samun Sawung Mangsi pun melongo. Pikirnya, Cem mana pula cik Felixus ini tidak ingatkan aku dari tadi?

* * *

Beberapa menit kemudian di Rumah Sakit…

Samun: “Bagaimana keadaan korban, Dog? Parahkah luka-lukanya?”

Dokter: “Berat, Mas. She lost lots of blood, but fortunately we have found most of it. Lukanya besar. Perlu dijahit.”

Samun: “Astagfirrullohhh…!!! JAHIT BENANG atau JAHIT KAWAT , Dog????”

Dokter: “JAHIT SPIRAL saja. Memang lebih mahal tetapi lebih bagus hasilnya. Dan jangan lupa, memarnya harus kita EMBOSS. By the way, kenapa sih Anda memanggil saya Dog terus? Memangnya saya ini anjing?”

Samun: “Well, umm, err, maaf, Dog, eh Dok. By the way, kalau SPIRAL saya tidak mau dok, soalnya saya anti KB.” 

* * *

Siang itu Samun Sawung Mangsi terpaksa merogoh koceknya yang tak begitu dalam, 100 rebu untuk biaya pengobatan. 150 rebu untuk uang kaget korban. 80 rebu untuk biaya tutup mulut Felixus dan Jabat Erat, traktir makan siang di warung Arab. Makan nasi kebuli kambing.

Aku perlu bercerita pada kalian tentang Samun Sawung Mangsi…….

Written by wisedan

April 30, 2009 at 6:40 am

Ditulis dalam Uncategorized

Babi

leave a comment »

Cerita ini aku dengar dari Dono mungkin. Tapi aku lupa pastinya. Dono suka makan babi. Dia kerap menawarkan aku makan babi. Tapi aku tidak tertarik. Karena Babi mengingatkanku pada Bronco. Bronco mirip Babi.

Petugas Dinas Peternakan mendatangi peternakan babi di Tangerang.

“Babi-babi di sini dikasih makan apa?”
“Cuma itu Pak. Campuran makanan sisa-sisa warung dan segala sayur, dan buah yang sudah busuk..”
“Wah.. ini melanggar peraturan. Bisa menyebarkan wabah flu babi.. Engkoh bisa ditangkap kalau begini…”
“Jangan gitu lah Pak.. ini seratus ribu buat bapak.. jangan dilaporin ya pak..”

Seminggu kemudian Dinas Peternakan datang lagi.

“Sekarang babi-babi di sini dikasih makan apa?”
“Owe kasih makan bagus la.. nasi baru masak.. sayur hangat, ikan, sama ayam goreng….”
“Wah.. boros sekali… ini pelecehan. Engkoh bisa ditangkap kalau begini. Banyak warga kelaparan di sini, engkoh malah kasih babi makanan mahal..”
“Jangan gitu lah Pak.. ini seratus ribu buat bapak.. jangan dilaporin ya pak..”

Seminggu kemudian Dinas Peternakan datang lagi.

“Sekarang babi-babi di sini dikasih makan apa?”
“Owe bingung ha… owe kasih makan busuk situ marah.. owe kasih makan bagus situ marah.. sekarang babi-babi tiap hari owe kasih uang limarebu, cari makan sendiri-sendiri ha….

Written by wisedan

April 30, 2009 at 5:52 am

Ditulis dalam Uncategorized

Jabat Erat pengen jadi motivator

leave a comment »

“Aku udah yakin..”
“Yakin apa?”
“Aku mau jadi motivator.. Motivator Semangat Kuat merek dagang aku Bang..”
“Kayak kecap aja kau Jab..”
“Aku pengen kaya.. jadi karyawan kayak gini, mati aja lah aku bang.. baju aja rapi, kemeja, mobil kantor.. habis bulan habis duit.. jam 8 datang jam 5 pulang, gak mau aku sampai tua kayak gini Bang..”
“Gitulah, kau panggil aku bang, jangan mas-mos mas-mos..”

Jabat sesekali memanggilku Bang. Kadang Mas. Ganti-ganti sesuka dia. Sebenarnya aku lebih suka kalau orang yang lebih muda manggil aku Bang. Kalau mas kurang macho. Terlalu lembek. Tidak ada nada kebanggaan dan kehormatan dalam mas. Kalau abang kan terkesan gagah. Bang Jampang, Bang Pitung, Bang Ali Sadikin. Kalau mas, gak beda dengan kita manggil mas-mas tukang jual sayur keliling. Tukang parkir atau tukang sapu. Bukannya aku meremehkan mereka. Gak.

“tapi kalau bang kan kayak manggil abang becak nya bang..”
“…………”

“kau mau jadi motivator apa.. apa yang mau kau tipuin orang? Motivator itu kan nipu aja kerjanya itu”
“bukannya nipu aku bang.. aku mau ngajarin kecerdasan politik.. banyaknya caleg sama yang mau ikut pilkada sekarang. Nanti aku ajarin orang itu kekmana cara supaya kepilih, rahasia-rahasianya apa.. gitu bang.. teknik-teknik baru Bang. Kalau Cuma bikin poster sama baliho itu gak can bang”

Gak can itu artinya gak ada efek. Gak ngaruh. Itu bahasa prokem di kawasan Medan dan Aceh.

“kau sendiri belum pernah jadi anggota DPR.. macam mana kau bisa jadi ngajarin orang supaya bisa kepilih?”
“Gak penting bang, taunya abang Ram Charan? Dia konsultan CEO perusahaan yang masuk jajaran Fortune 50. Macam General Electric, DuPont, Verizon, macam-macamlah bang. Padahal dia gak pernah jadi CEO. Dia nasehatin Jeff Immelt gimana cara perbaiki manajemen strategis GE. Padahal dia gak pernah mimpin perusahaan sebesar GE. Mimpin usaha warung pecel lele aja dia gak pernah..”

Aku teringat Ram Charan. Salah satu penulis buku bisnis yang suka aku baca. Bukunya aku pinjam dari koleksinya Jabat. Untuk urusan wawasan manajemen bisnis, Jabat memang hebat. Dia hafal luar kepala 100 ide manajemen mutakhir. Sejarah 100 perusahaan paling inovatif, lengkap dengan nama CEO yang terakhir.

Jabat kalem kalau bicara biasa. Seperti Soeharto atau Moerdiono. Tapi kalau di podium dia berubah jadi Soekarno. Berkobar seperti api lampu petromak yang baru nyala. Kalau gak jadi motivator, Jabat cocok juga jadi pendeta. Pendeta Gereja Protestan. HKBP. Huria Kristen Batak Protestan. Berapi-api kalau bicara, macam tukang jual obat kurap pinggir jalan.

Sekarang udah jarang tukang obat model gini. Dulu di Medan dan sepanjang pantai Timur Aceh banyak sekali. Jualnya obat kurap, obat penyakit kulit, tapi pidatonya kalah Soekarno. Konon katanya dulu Soekarno belajar pidato dengan tukang jual obat kurap.

Jabat beda dengan Dono, Felixus Minimus Dono. Dono cocoknya jadi pastor Katolik. Tenang, kebapakan, kalem, menidurkan dan meniduri jemaat..

Written by wisedan

April 30, 2009 at 1:43 am

Ditulis dalam Uncategorized

Jabat dan Tahi

leave a comment »

Jabat Erat sesungguhnya tak terlalu suka namanya disebut lengkap. Kepada kami dia selalu meminta agar dipanggil JE saja, terinspirasi budaya di Majalah TEMPO barangkali. Tiap kali memanggilnya JE, aku selalu teringat JE Sahetapi, profesor hukum Unair yang dikenal lurus itu. Jabat Erat sebenarnya orang yang lurus, benar-benar lurus. Tak pernah dia korupsi, bahkan untuk soal sepele kayak alat tulis kantor sekalipun. Makanya dengan bangga dia selalu mengutip Andy Dufresne dalam film The Shawshank Redemption, “The funny thing is, on the outside, I was an honest man, straight as an arrow. I had to come to prison to be a crook.”

Penjara. Kata itu yang selalu Jabat pakai untuk menggambarkan kantornya. Jabat Erat ini sejak kecil sudah bermimpi besar, berpikir besar. Cita-citanya sejak SD adalah jadi menteri. Di SMP berubah pula jadi insinyur penerbangan. Dan lihatlah dia sekarang, tukang senting di KalaSerangga. “Ini bukan kecelakaan sejarah,” kata Jabat suatu kali. “Aku percaya alam punya rencana buatku.” Terdengar seperti pembelaan orang kalah? Tidak juga. Sesungguhnya Jabat masih menyimpan ambisi mulia. Dia yakin suatu hari nanti dirinya akan jadi penulis besar yang buah pikirannya menginspirasi jutaan orang untuk hidup lebih penuh.

Soal penjara tadi, Jabat ini sebenarnya tipikal seniman jalanan. Dia benci diatur, dikungkung. Dia nggak suka tenggat. Dia anti absensi. Makanya dia sempat stres berat di awal-awal masa bekerja di KalaSerangga. Jabat ingin bekerja dengan aturannya sendiri, dengan waktunya sendiri. Tapi kini tak bisa. Sudah 6 tahun sekarang, dan Jabat berhasil bertahan. Barangkali dia sudah berdamai dengan keadaannya. Atau menyerah? Aku tak mau sinis memandang temanku itu. He’s a man of integrity. Aku percaya. Meskipun kadang aku jadi ragu setiap kali Jabat mengutip Ellis Boyd Redding dalam The Shawshank Redemption, “These walls are funny. First you hate them. But then you get used to them.”

“Ada apa dengan kau dan The Shawshank Redemption,” tanyaku geram suatu kali soal film kesukaannya itu. Dan jawaban Jabat membuatku tak bisa tidur malam itu. Andy Dufresne, katanya, menanti dengan sabar selama 20 tahun, sebelum akhirnya melarikan diri dari penjara Shawshank melalui saluran pembuangan tahi sepanjang 500 yard. “Barangkali KalaSerangga ini adalah saluran pembuangan tahi yang harus kulewati sebelum akhirnya aku meraih kebebasanku,” simpulnya, kefilsuf-filsufan. “Kau terlalu serius, Kawan. Santai ajalah,” timpalku.

Uniknya, sekalipun sering skeptis terhadap keadaan, Jabat Erat ini suka sekali memotivasi teman-temannya. Suatu kali aku datang mengeluhkan tentang suatu masalah yang membuatku hampir hilang harapan. Dengan suara rendah ala Mario Teguh dia menjawab, “Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.” Hari itu Jabat membuatku kembali yakin bahwa hidup ini indah dan setiap masalah punya jalan keluar.

Rasa penasaran mendorongku untuk menonton The Shawshank Redemption suatu kali. Aku ingin tahu sebagus apa film kesukaan Jabat ini. Damn, ini film memang bagus. Menginspirasi. Jabat bangettt. Besoknya, setengah bercanda, aku kutipkan Ellis Boyd Redding untuk dia ketika kami menikmati makanan sampah kami di kafetaria kantor. “I have to remind myself that some birds aren’t meant to be caged. Their feathers are just too bright and when they fly away, the part of you that knows it was a sin to lock them up does rejoice, but still, the place you live in is that much more drab and empty that they’re gone.” Jabat tertawa lepas mendengar itu. “That’s me my friend. This is just my 500 yard shit hole,” katanya pongah.

Ahh…Jabat. Semoga kau cepat keluar dari saluran tahimu.

Written by wisedan

April 30, 2009 at 12:14 am

Ditulis dalam Uncategorized

Jabat Erat

leave a comment »

“Dia gak pernah negur orang. Kalau berjalan hanya lurus melihat ke depan. Sombong. Alien. Saya gak suka sama itu orang..” protes seorang kawan perempuan.
“jangan begitu.. tiap orang kan beda. Kalau sama, kan gak menarik ini dunia Mbak.”
“Tapi kan gak boleh sombong gitu.. dia kan anak baru.. harusnya ramah..”
“dia bukan sombong. Dia perenung yang dalam. Pemimpi, dan visioner.. jadi kadang agak autis dengan lingkungan.. sebenarnya dia baik. Empatinya tinggi, sopan, dan pemalu sepertinya..”
“Halah.. siapa namanya?”
“Jabat Erat Simanjuntak”
“Batak kok pemalu?”
“Batak kan manusia.. gimana Mbak ini, memangnya orang Jawa saja yang boleh pemalu..”

Sekarang aku perkenalkan temanku yang satu lagi. Jabat Erat Simanjuntak. Kupanggil dia Jabat.
“kenapa namamu Jabat Erat?” Kepala SDM di kantorku suatu ketika pernah bertanya kepada Jabat.
“gak tau aku, kata mamakku waktu aku baru lahir, bapakku disalam dia kuat-kuat sama kepala kampung. Dikasih duit dia. Katanya suruh milih kepala kampung itu waktu pemilihan kepala kampung. Habis itu dikasih pulak nama aku Jabat Erat.
Jabat anak Batak. Sebenarnya dia sudah berkurang kadar kebatakannya. Kalau aku ibaratkan kopi. Jabat itu seperti Yirgacafe, atau kopi Afrika. Soft. Lembut seperti Teh. Walaupun baunya kopi. Dia lebih seperti orang Sunda atau Jawa.
“Aku mau jadi motivator Mas. Seperti Tung Desem Waringin, James Gwee, Mario Teguh. Nanti Mas lihat namaku di iklan KOMPAS, Jabat Erat Simanjuntak, motivator semangat kuat…”
Jabat mengoleksi beragam buku bisnis populer. Bahasa Inggris semuanya. Aku suka sekali minjam bukunya Jabat. Aku tahu kadang dia kesal. Karena aku jarang mengembalikan buku-bukunya. Tapi Jabat hanya berkata dalam hati. Enggan berkata langsung seperti lazimnya orang Batak. Batak tipe kopi robusta sidikalang maksudku. Tau kan rasanya kopi robusta sidikalang? Pekat, keras, menonjok ke otak.

Written by wisedan

April 29, 2009 at 8:31 am

Ditulis dalam Uncategorized