Wisedan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for Mei 2009

flu

leave a comment »

Kenapa Wisedan sesepi kuburan kini? Anda berhak bertanya. Wisedan kini sebuah prosa yang bertemu tanda koma. Ada nuansa berhenti, tapi bukan titik, tak juga usai. Hanya sepotong jeda untuk menarik napas panjang, mengendapkan tragi-komedi Kalaserangga seraya berharap ada yang cukup berharga untuk diserap.

Tapi memang tokoh-tokohnya seperti sedang kena bala. Bronco dihajar flu babi, Felixus dibantai flu kucing, Samun digempur flu unta, Jabat terpukul flu kadal. Seolah belum cukup, dalam keadaan itu keempat figur kita masih dilimpahi latihan ini-itu oleh Van Damme. Felixus dan Bronco disuruh siap-siap jadi Simon Cowell dan Randy Jackson versi kampus. Bingung juga, siapa di antara mereka yang mau disamakan dengan Randy Jackson, dan mesti belajar mengucapkan “You nailed it, Dawg” ala Randy. Samun disuruh bikin atraksi pemecahan rekor baca kitab suci. Sementara Jabat disuruh menyanyikan “Nenek moyangku orang pelaut” bersama siswa-siswa  SD di tengah samudera. Padahal dalam hati dia lebih suka “I’m Popeye the sailor man…”

Namun yakinlah, setelah jeda yang entah sampai kapan ini, Felixus dan kawan-kawannya akan kembali dengan laporan pandangan mata dari dunia absurdia Kalaserangga. Anda hanya perlu bersabar. We’ll be back!

Iklan

Written by wisedan

Mei 15, 2009 at 9:00 am

Ditulis dalam Uncategorized

Felixus tak henti bertanya

leave a comment »

Senam. KalaSerangga ikut jargon mengolahragakan masyarakat. Tiap akhir pekan pekerjanya disuruh senam. Felixus Minimus anti-senam. Katanya itu bentuk pembodohan kolektif, yang secara subtil menanamkan di benak pekerja bahwa mereka tak punya pilihan – gerakan diaturkan untuk mereka, musiknya pun dipilihkan untuk mereka. Jus kotak dan kue yang dibagikan sehabis lari keliling lapangan, kata Felixus, cuma bentuk vulgar dari pavlovian conditioning macam di novel distopia-nya si Aldous Huxley, Brave New World. Aku bingung, sempat-sempatnya pulak si kerempeng pakar kajian wanita Asia ini baca novel Huxley. Hasil akhirnya, Felixus berteori lagi, adalah sekumpulan orang yang meyakini bahwa perbedaan individual itu buruk, bahwa konformitas itu baik, bahwa ikut aturan perusahaan itu benar karena perusahaan selalu benar. “Lalu orang akan berhenti bertanya. Bukankah itu lebih buruk daripada kematian?” Felixus sok kontemplatif.

Kafetaria. Kata Felixus, dulu Richard Feynman menemukan inspirasi tentang nanoteknologi pas lagi liat piring makan siangnya di kafetaria. Meskipun terinspirasi oleh penemu superfluidity itu, Felixus anti-kafetaria. Tempat para pekerja KalaSerangga makan itu selalu membuatnya muak. “Sampai soal makan pun mereka mengatur kita!” sergahnya suatu kali. Alhasil, Felixus jarang makan sekarang. Kalau lapar, dia mencari distraksi pada catur, infat, dan, tentu saja, kucing. Tiap kali kuajak makan di kafetaria, dia selalu menolak seraya berkata, “Itu bukan makanan, Kawan.”

Presentasi. Sementara KalaSerangga mengagung-agungkan kemampuan presentasi, Felixus Minimus menghindari presentasi seperti kambing menjauhi air. Kalau tak wajib betul, takkan mau dia berkecap-kecap di depan orang banyak. Tak penting, katanya, menunjuk petinggi-petinggi KalaSerangga yang jago banget ngomong sampai berbusa-busa. Orang-orang itu, lanjut Felixus, bahkan lebih jago daripada Nick Naylor, chief spokesman dari Academy of Tobacco Studies, dalam film Thank You for Smoking. Motivasi mereka bicara, kata Felixus, hanya sekadar demi bicara itu sendiri. “Mereka tak hendak menyampaikan apa pun. Anehnya, semua kita ganjar dengan tepuk tangan toh? Siapa yang tolol kalau sudah gini?” Felixus retoris. “Tapi menyampaikan gagasan itu kan tetap penting, Felix?” cecarku suatu kali. Dengan enteng dia kutip Yesus dalam Matius 7:6, “Do not give what is holy to dogs or throw your pearls before pigs; otherwise they will trample them under their feet and turn around and tear you to pieces.” Kesimpulannya, kata Felix geram, kita tahulah siapa anjing dan babinya. Aku tak bisa menahan tawa. Trus, berarti bullshit yang selalu aku ucapkan waktu presentasi itu mutiara yang suci?

Sama seperti Felix. Samun juga gak suka senam berjamaah. Awalnya Samun senam sebulan sekali. Lalu tiga bulan sekali. Sekarang sudah dua tahun Samun belum juga ikut jemaat senam. Tapi Samun memilih tidak berpendapat tentang senam. Senam tidak eksis dalam benaknya.

Samun tidak suka berdebat. Baginya adu argumen tidak ada gunanya. Samun memilih jalannya sendiri. Samun tetap memilih A, walaupun seluruh orang di dunia ini memilih B atau C. Anehnya, Samun tidak mau menjelaskan kenapa dia memilih A, atau pun mengkritik mereka yang memilih B atau C.
Bagi Samun, senam berjamaah lebih sebagai ritual. Prosesi agama purba. Jemaat bertepuk tangan. Lalu melompat, berlari, menunduk. Diakhiri bersujud dan merebahkan semua badannya. Agama tribal yang memaksakan pengikutnya untuk menggerombol, mengguyub satu minggu sekali. Tapi Samun tak hendak meyakinkan kau tentang itu.
Kalau kau bertemu Samun, lalu berdebat dengan dia, kau akan merasa menang. Pendapat mu diiyakan. Seakan kau terang kebenaran. Seolah ia menjadikanmu penasehatnya. Tapi ia tidak peduli sama sekali. Yakinlah, Ia akan tetap dengan pendapatnya. Biarpun seratus tahun pun kau berusaha meyakinkannya.
Beda dengan Bronco. Bronco suka diskusi. Ia menerjang. Seperti kuda liar, kalau tersudut Bronco akan menangis. Tanpa airmata. Tapi suaranya sedu sedan. Mereot seperti kursi malas yang bertahun-tahun diduduki. Samun suka sekali bicara dengan Bronco. Samun tidak pernah membantah Bronco. Ia menganggap Bronco seperti radio tua atau televisi. Untuk didengar. Menjadi hiburan..

…to be continued..

Written by wisedan

Mei 2, 2009 at 3:22 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tikus

leave a comment »

Chong Li itu tikus kecil. Jauh di dalam dirinya dia begitu. Percayalah. Ada yang penakut di dalam dirinya yang dia tutupi dengan bersikap galak. Dia seperti membangun tembok tak kasat mata untuk menghalangi orang menelisik lebih dalam apa yang sedang ia coba sembunyikan – dalam kasus Chong Li: tikus kecil tadi.

Chong Li membina otot-ototnya bukan karena dia pecinta binaraga, melainkan sekadar untuk menutupi jiwanya yang kerempeng. Chong Li selalu bicara keras dan tajam bukan karena dia tegas, melainkan sekadar untuk menutupi mentalitasnya yang lembek. Chong Li suka marah-marah bukan karena orang lain salah, melainkan sekadar agar orang tahu bahwa dia berkuasa dan penguasa tak pernah salah.

Chong Li sudah salah jalan. Ibarat orang sakit kurap, yang dia minum malah Panadol. Obat bagi jiwa yang kerempeng mestinya buku-buku macam God Explained in A Taxi Ride, ehh…yang dia baca malah Think Like A Math Genius. Obat bagi mentalitasnya yang lembek mestinya buku-buku macam Pidato-pidato yang Mengubah Dunia, ehh…dia malah baca On Bullshit. Obat bagi paranoia kekuasaannya mestinya buku-buku macam Leadership and Self-Deception, ehh…dia malah baca How to Make Use of Employee’s Guilty Feeling. Tapi itulah Chong Li. Barangkali dia telah dipilih alam sebagai penyeimbang. Kau tahu, ada kebaikan ada keburukan, ada sehat ada sakit. Begitulah.

Tapi Chong Li juga punya sisi yang lain, yang tetap saja sukar dimengerti – entah kepedulian atau malah ngerjain. Orang-orang yang habis dia kepruki biasanya akan dia panggil lagi. Dia akan suruh orang-orang ini untuk cari-cari informasi tentang perguruan bela diri tingkat lanjut, lalu coba apply. Katanya untuk pengembangan diri. Tapi biaya yang keluar dalam seluruh proses aplikasi perguruan bela diri itu sepenuhnya ditanggung para korban keprukan itu. Dan seperti biasa, uang yang seharusnya untuk mengobati lebam-lebam hasil perbuatan Chong Li, terpaksa dipakai untuk ikut tes ini-itu untuk nyoba masuk padepokan silat ini-itu. Walaupun pada akhirnya Chong Li akan bilang, “TIDAK!”

Chong Li tak pernah sadar bahwa wibawa yang dibangun dari rasa takut orang lain tak akan bertahan lama. Lambat laun orang akan sadar bahwa Chong Li ini hanya tikus kecil yang terlindungi oleh otot-otot kekar. Lalu orang-orang akan tertawa ketika dia marah atau malah memantati ketika dia memberi perintah. Wibawa semu Chong Li sesungguhnya ada dalam genggaman waktu. Dan waktu itu akan tiba. Mungkin tak lama.

Written by wisedan

Mei 1, 2009 at 7:49 am

Ditulis dalam Uncategorized

Gombang Sukampak

leave a comment »

“Hitung semua.. Bu. Harusnya rombongan yang makan tadi saya bayar semua. Tapi sudah terlanjur..”
“lagi banyak duit ya Pak?”
“Iya.. ini kulkasnya ibu bagus, saya beli saja ya…”

Saya menyesal. Soalnya saya sudah bayar. Baru saja. Sepuluh ribu untuk nasi, ikan kembung goreng, sayur toge, sama tempe goreng satu.
“Abang yang ini mau dikembalikan uangnya?”
“Gak usah Bu.. Sudah dikasih uangnya gak baik dikembalikan..”
Pamali Cina. Uang masuk gak baik dikembalikan. Gak hoki.

Ada empat orang yang makan siang tadi. Jabat, Felix, dan dua selingkuhan mereka. Aku bayar sendiri.

Gombang Sukampak. Nama yang bayarin.
Gombang cerdas sekali. Tandanya botak. Botak di depan kepala. Makin lama makin botak.
Pernah dia bilang kalau botak di depan kepala itu botak cerdas. Kalau botak di tengah kepala itu botak stress.
Ada kawanku juga botak. Namanya Jono. Nama lengkapnya Klitorus Horgasmus Maximus Jono Mangkuwanito. Jono tidak cerdas. Tidak juga stress. Hobinya download film esek-esek. Juga foto wanita telanjang. Jutaan foto wanita telanjang di laptopnya. Aneh. Soalnya tubuh wanita dibolak-balik dari mana saja tetap sama. Ditelanjangi setelanjang-telanjangnya juga sama saja. Mungkin Jono jenisnya botak seks. Botak tipe ketiga.

Gombang penuh ide. Gagasannya menghentak. Seperti hentakan bus metromini tua waktu pertama dihidupkan.
Gombang satu spesies dengan motivator, tukang tipu, juga pendeta, atau ustad yang hobinya marahin orang-orang waktu khotbah jumat. Seperti Jabat juga. Tapi Gombang pembicara ulung. Kalau Jabat kerap terbata-bata, kecuali di atas podium. Kalau jadi penipu, Gombang bisa banyak makan korban. Kalau Jabat kurang cocok jadi penipu.

Aku heran lihat Gombang. Gombang harusnya jadi pengusaha sukses. Kenapa dia betah jadi karyawan terus. Mungkin Gombang hobinya ngomong. Pengusaha gak boleh banyak omong.

Gombang jujur. Teman wanitanya bilang begitu. Gombang juga murah kantong. Dia suka traktir kawan-kawannya. Kalau aku jadi pengusaha, aku akan pekerjakan Gombang.

“Aku masih laku..”
“Kenapa bisa begitu?”
“Buktinya waktu kemaren aku kirim lamaran, aku dipanggil..”

Gombang memang bukan tipe pengusaha.
Mungkin pengusaha tidak perlu cerdas. Atau banyak omong macam Gombang. Cukup nekat saja.

Written by wisedan

Mei 1, 2009 at 7:02 am

Ditulis dalam Uncategorized

DEFEATING THE UNDEFEATEABLE

leave a comment »

“You kill my brother! Soooooooo….. I want to get revenge. I want to kill you!!!”

Haaaaaaaattt!!! Bunzyk! Buzyk! Buzyk! Buzyk!!

Familiar dengan dialog dan skenario di atas? Ya, itulah hal yang umum kita dapati di film laga (martial arts movies). Dulu itu adalah dialog standar di film-film silat cina. Thema ceritanya rata-rata sama semua: kisah tentang seorang jagoan yang orang terkasihnya dibunuh oleh penjahat, lalu membalas dendam.

Ada satu lagi thema yang banyak dipakai, yaitu turnamen seni beladiri. Sang jagoan ikut di turnamen yang juara bertahannya adalah sang penjahat, bisa juga kita sebut sang pembantai. Tapi lagi-lagi, biasanya, sang jagoan punya teman berupa ahli-ahli beladiri yang kurang jago (kita sebut saja mereka jagoan minor) –ada yang satu tingkat di bawahnya, dan ada juga yang dua tingkat di bawahnya– sehingga mereka dikalahkan oleh sang pembantai, dan sang jagoan pun membalaskan dendam mereka.

Dalam film seperti ini, salah satu pembantai yang legendaris adalah Chong Li –diperankan Bolo Yeung– dalam film Bloodsport.

bloodsport-chongli

Chong Li orang Korea berbadan besar. Lengannya nyaris sebesar badan rekan kita Felixus Minimus. Semua ahli beladiri dari berbagai penjuru dunia dikeprukinya, termasuk rekan-rekan sang jagoan kita yang diperankan Jean Claude Van Damme. Chong Li, terkenal dengan kata-kata ancamannya: “You are next!”. Akhirnya, setelah bersusah payah dan hampir kalah, Van Damme berhasil juga menumbangkan Chong Li.

Camkan ini: Untuk mengalahkan pembantai sekelas Chong Li, hanya jagoan sekelas Van Damme yang bisa!

Sekarang mari kita kembali ke kehidupan kita sehari-hari. Saya bertaruh bahwa Anda pernah mengalami “menjadi pemain film yang memerankan jagoan minor”? Peran Anda? Hanya untuk dikepruki oleh sang pembantai.

Menyedihkan, but it happens in life. Lucunya, ada lagi yang lebih menyedihkan dari itu, yaitu ketika Anda dikepruki oleh sang pembantai, lantaran ada “Jagoan sekelas Van Damme” yang menyuruh Anda untuk maju! “Jagoan sekelas Van Damme” itu tahu bahwa skill Anda ada dua tingkat, atau bahkan empat tingkat di bawah “Chong Li”. “Jagoan sekelas Van Damme” itu tahu, bahwa kekalahan Anda hanya masalah dibantai-dengan-cara-apa (ditendang? ditonjok? dibanting? atau dijitak?), “Jagoan sekelas Van Damme” itu tahu bahwa bahkan dirinya sendiri pun tidak dapat menang mudah melawan “Chong Li”, tetapi ia hanya membekali Anda dengan motivasi semata, lalu menyuruh Anda maju, dan ketika Anda dipukul KO hanya dengan satu jitakan (untuk menggambarkan bagaimana lemahnya Anda) setelah Anda memperagakan jurus monyet Anda dengan berisik sebelum bertanding, sang “Van Damme” pun mundur teratur dan menyalahkan Anda karena menganggap Anda kurang persiapan. Dan “Van Damme” itu juga tidak membalaskan dendam Anda, seperti di film-film silat Cina klasik, sehingga babak belurnya Anda menjadi suatu kesia-siaan.

It happens…

Aneh, tapi nyata!

Written by wisedan

Mei 1, 2009 at 2:20 am

Ditulis dalam Uncategorized