Wisedan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Tikus

leave a comment »

Chong Li itu tikus kecil. Jauh di dalam dirinya dia begitu. Percayalah. Ada yang penakut di dalam dirinya yang dia tutupi dengan bersikap galak. Dia seperti membangun tembok tak kasat mata untuk menghalangi orang menelisik lebih dalam apa yang sedang ia coba sembunyikan – dalam kasus Chong Li: tikus kecil tadi.

Chong Li membina otot-ototnya bukan karena dia pecinta binaraga, melainkan sekadar untuk menutupi jiwanya yang kerempeng. Chong Li selalu bicara keras dan tajam bukan karena dia tegas, melainkan sekadar untuk menutupi mentalitasnya yang lembek. Chong Li suka marah-marah bukan karena orang lain salah, melainkan sekadar agar orang tahu bahwa dia berkuasa dan penguasa tak pernah salah.

Chong Li sudah salah jalan. Ibarat orang sakit kurap, yang dia minum malah Panadol. Obat bagi jiwa yang kerempeng mestinya buku-buku macam God Explained in A Taxi Ride, ehh…yang dia baca malah Think Like A Math Genius. Obat bagi mentalitasnya yang lembek mestinya buku-buku macam Pidato-pidato yang Mengubah Dunia, ehh…dia malah baca On Bullshit. Obat bagi paranoia kekuasaannya mestinya buku-buku macam Leadership and Self-Deception, ehh…dia malah baca How to Make Use of Employee’s Guilty Feeling. Tapi itulah Chong Li. Barangkali dia telah dipilih alam sebagai penyeimbang. Kau tahu, ada kebaikan ada keburukan, ada sehat ada sakit. Begitulah.

Tapi Chong Li juga punya sisi yang lain, yang tetap saja sukar dimengerti – entah kepedulian atau malah ngerjain. Orang-orang yang habis dia kepruki biasanya akan dia panggil lagi. Dia akan suruh orang-orang ini untuk cari-cari informasi tentang perguruan bela diri tingkat lanjut, lalu coba apply. Katanya untuk pengembangan diri. Tapi biaya yang keluar dalam seluruh proses aplikasi perguruan bela diri itu sepenuhnya ditanggung para korban keprukan itu. Dan seperti biasa, uang yang seharusnya untuk mengobati lebam-lebam hasil perbuatan Chong Li, terpaksa dipakai untuk ikut tes ini-itu untuk nyoba masuk padepokan silat ini-itu. Walaupun pada akhirnya Chong Li akan bilang, “TIDAK!”

Chong Li tak pernah sadar bahwa wibawa yang dibangun dari rasa takut orang lain tak akan bertahan lama. Lambat laun orang akan sadar bahwa Chong Li ini hanya tikus kecil yang terlindungi oleh otot-otot kekar. Lalu orang-orang akan tertawa ketika dia marah atau malah memantati ketika dia memberi perintah. Wibawa semu Chong Li sesungguhnya ada dalam genggaman waktu. Dan waktu itu akan tiba. Mungkin tak lama.

Iklan

Written by wisedan

Mei 1, 2009 pada 7:49 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: