Wisedan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Felixus tak henti bertanya

leave a comment »

Senam. KalaSerangga ikut jargon mengolahragakan masyarakat. Tiap akhir pekan pekerjanya disuruh senam. Felixus Minimus anti-senam. Katanya itu bentuk pembodohan kolektif, yang secara subtil menanamkan di benak pekerja bahwa mereka tak punya pilihan – gerakan diaturkan untuk mereka, musiknya pun dipilihkan untuk mereka. Jus kotak dan kue yang dibagikan sehabis lari keliling lapangan, kata Felixus, cuma bentuk vulgar dari pavlovian conditioning macam di novel distopia-nya si Aldous Huxley, Brave New World. Aku bingung, sempat-sempatnya pulak si kerempeng pakar kajian wanita Asia ini baca novel Huxley. Hasil akhirnya, Felixus berteori lagi, adalah sekumpulan orang yang meyakini bahwa perbedaan individual itu buruk, bahwa konformitas itu baik, bahwa ikut aturan perusahaan itu benar karena perusahaan selalu benar. “Lalu orang akan berhenti bertanya. Bukankah itu lebih buruk daripada kematian?” Felixus sok kontemplatif.

Kafetaria. Kata Felixus, dulu Richard Feynman menemukan inspirasi tentang nanoteknologi pas lagi liat piring makan siangnya di kafetaria. Meskipun terinspirasi oleh penemu superfluidity itu, Felixus anti-kafetaria. Tempat para pekerja KalaSerangga makan itu selalu membuatnya muak. “Sampai soal makan pun mereka mengatur kita!” sergahnya suatu kali. Alhasil, Felixus jarang makan sekarang. Kalau lapar, dia mencari distraksi pada catur, infat, dan, tentu saja, kucing. Tiap kali kuajak makan di kafetaria, dia selalu menolak seraya berkata, “Itu bukan makanan, Kawan.”

Presentasi. Sementara KalaSerangga mengagung-agungkan kemampuan presentasi, Felixus Minimus menghindari presentasi seperti kambing menjauhi air. Kalau tak wajib betul, takkan mau dia berkecap-kecap di depan orang banyak. Tak penting, katanya, menunjuk petinggi-petinggi KalaSerangga yang jago banget ngomong sampai berbusa-busa. Orang-orang itu, lanjut Felixus, bahkan lebih jago daripada Nick Naylor, chief spokesman dari Academy of Tobacco Studies, dalam film Thank You for Smoking. Motivasi mereka bicara, kata Felixus, hanya sekadar demi bicara itu sendiri. “Mereka tak hendak menyampaikan apa pun. Anehnya, semua kita ganjar dengan tepuk tangan toh? Siapa yang tolol kalau sudah gini?” Felixus retoris. “Tapi menyampaikan gagasan itu kan tetap penting, Felix?” cecarku suatu kali. Dengan enteng dia kutip Yesus dalam Matius 7:6, “Do not give what is holy to dogs or throw your pearls before pigs; otherwise they will trample them under their feet and turn around and tear you to pieces.” Kesimpulannya, kata Felix geram, kita tahulah siapa anjing dan babinya. Aku tak bisa menahan tawa. Trus, berarti bullshit yang selalu aku ucapkan waktu presentasi itu mutiara yang suci?

Sama seperti Felix. Samun juga gak suka senam berjamaah. Awalnya Samun senam sebulan sekali. Lalu tiga bulan sekali. Sekarang sudah dua tahun Samun belum juga ikut jemaat senam. Tapi Samun memilih tidak berpendapat tentang senam. Senam tidak eksis dalam benaknya.

Samun tidak suka berdebat. Baginya adu argumen tidak ada gunanya. Samun memilih jalannya sendiri. Samun tetap memilih A, walaupun seluruh orang di dunia ini memilih B atau C. Anehnya, Samun tidak mau menjelaskan kenapa dia memilih A, atau pun mengkritik mereka yang memilih B atau C.
Bagi Samun, senam berjamaah lebih sebagai ritual. Prosesi agama purba. Jemaat bertepuk tangan. Lalu melompat, berlari, menunduk. Diakhiri bersujud dan merebahkan semua badannya. Agama tribal yang memaksakan pengikutnya untuk menggerombol, mengguyub satu minggu sekali. Tapi Samun tak hendak meyakinkan kau tentang itu.
Kalau kau bertemu Samun, lalu berdebat dengan dia, kau akan merasa menang. Pendapat mu diiyakan. Seakan kau terang kebenaran. Seolah ia menjadikanmu penasehatnya. Tapi ia tidak peduli sama sekali. Yakinlah, Ia akan tetap dengan pendapatnya. Biarpun seratus tahun pun kau berusaha meyakinkannya.
Beda dengan Bronco. Bronco suka diskusi. Ia menerjang. Seperti kuda liar, kalau tersudut Bronco akan menangis. Tanpa airmata. Tapi suaranya sedu sedan. Mereot seperti kursi malas yang bertahun-tahun diduduki. Samun suka sekali bicara dengan Bronco. Samun tidak pernah membantah Bronco. Ia menganggap Bronco seperti radio tua atau televisi. Untuk didengar. Menjadi hiburan..

…to be continued..

Iklan

Written by wisedan

Mei 2, 2009 pada 3:22 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: