Wisedan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for Maret 2010

Kecerdasan yang sesungguhnya

leave a comment »

Pamanku seorang pedagang. Awalnya dia pedagang kaki lima. Berjualan perhiasan imitasi di pinggir jalan. Numpang di depan toko milik orang lain. Itu sekitar 30 tahun yang lalu. Usianya sekitar 20-an tahun waktu itu. Lalu dia alih usaha menjadi pedagang pakaian, walau masih di kaki lima. Perlahan ia mampu menyewa kios kecil, lalu sebuah ruko, lalu memiliki ruko dan gudang ruko 2 lantai di belakang rukonya. Kini 30 tahun berlalu, ia sudah menjadi pedagang grosir pakaian terbesar plus distributor tunggal beberapa merek jeans terkenal seperti Levi’s, Lea, Lee Cooper dan sebagainya di daerahku. Tokonya kini ada di tiap kota kabupaten dan kotamadya di daerahku.

Ia masih sering berbelanja di Pasar Tanah Abang. Naik turun metromini, angkot, dan numpang ojek masih terus dilakoninya kalau dia ke Jakarta. Biasanya ia menginap di hotel murah di Tanah Abang. Tetapi ia biasa mengeluarkan uang lebih dari sepuluh milyar tiap ia belanja kebutuhan tokonya.

Sering ia menasehati saya, jangan lama-lama menjadi karyawan, baik swasta maupun negeri (PNS):
”Kalau jadi karyawan, memang hidupmu teratur, tapi tidak akan meningkat, seperti itu saja sampai tua.”
”jangan mau rezekimu diatur orang lain, dijatah orang lain.”
”usaha sendiri memang pahit di awal, tapi manis di akhir. Jadi karyawan itu manis di awal, tapi pahit di akhir.”

Pamanku ini hanya tamatan SD, tidak jelas juga apakah ia punya ijazah SD atau tidak. Kalau lah ia dulu meneruskan sekolah sampai sarjana, mungkin akhirnya ia cuma jadi karyawan swasta seperti diriku, atau PNS.

Ia hanya tamatan SD, tidak kenal credit card, handphone (ia tidak mau memakai handphone walau mampu membelinya), dan laptop, dan anti meminjam uang di Bank. Walaupun Ia biasa membeli rumah dan mobil secara cash. Aku pikir ia orang kaya sesungguhnya, beda dengan karyawan yang semuanya dikredit, beli rumah kredit, mobil dikredit, handphone kredit, laptop kredit, hingga ajal menjemput kredit masih melilit leher.

Bagi mereka yang sekolah tinggi-tinggi, lalu jadi sarjana hingga pasca sarjana hanya untuk jadi karyawan alias kuli. Mari berfikir lagi. Siapa yang cerdas sesungguhnya?

Iklan

Written by wisedan

Maret 25, 2010 at 4:55 am

Ditulis dalam Uncategorized

Demi Waktu Yang Hilang Karena Engkau Terus Menjadi Karyawan

leave a comment »

Surah Al-‘Ashri diwahyukan kepada Nabi Muhammad di Mekkah belasan abad yang lalu. Dalam Al-Qur’an surah ini masuk dalam surah bernomer 103, dari total 114 surah.

Disini saya ingin memberikan makna yang saya inginkan sendiri untuk surah ini. Suka-suka saya. Saya ingin menafsirkannya dari sudut pandang wirausaha.

(1) Wal’ashri
(Demi Masa)

demi waktu matahari terbenam, demi waktu ashar. ketika banyak bisnis dan usaha memasuki era sunset, atau matahari terbenam, ketika jenis usaha menjadi kadaluwarsa dan tidak lagi laku dijual dan demi usia manusia yang menua ketika ia masih terus menjadi karyawan, lalu pensiun dalam keadaan melarat dan sekarat.

(2) innal insana la fi khusrin
(Sungguh manusia berada dalam kerugian)
sesungguhnya manusia itu dalam kerugian jika terus menjadi karyawan dan tidak mau pindah kuadran menjadi wirausahawan. Mereka-mereka yang masuk dalam kerugian adalah mereka-mereka yang terus menerus menjadi karyawan atau pegawai seumur hidupnya, baik pegawai swasta maupun negeri. Dalam masa kerjanya mereka pagi siang malam banting tulang banting otak memperkaya orang lain yaitu tuan pemilik usaha itu, sedang mereka menjadi kafir, mengkufuri dan mengingkari bahwa rezeki itu maha luas dari Tuhan, tetapi mereka memilih menjadi musyrik karena menjadikan tuan pemilik usaha itu menjadi Tuhan mereka yang menjatah dan menentukan gaji mereka tiap bulan. Setelah pensiun mereka malah tidak bisa kemana-mana karena tidak ada uang lagi sedangkan uang pensiun hanya cukup buat beli beras, tempe dan ikan asin, mereka tidak bisa apa-apa lagi karena mereka hanya bisa bekerja sebagai karyawan, sedangkan ketika pensiun mereka sadar bahwa dunia sekeliling mereka sudah berubah.

(3) illalladzina amanu wa ‘amilusshalihat
(kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,

Yaitu mereja yang yakin dengan rezeki Tuhan yang mahaluas di bumi, dan beramal saleh (mau menjadi wirausahawan), dan tidak menggantungkan rezekinya kepada manusia lain. Mereka-mereka yang tidak memilih menjadi karyawan swasta maupun negeri, tetapi mereka yang memilih berdagang, membuka birojasa, membuka warnet dan game online, berjualan koran dan majalah, membuka tambal ban, bengkel, serta membuka usaha warung kopi dan warung nasi. Orang-orang seperti inilah yang benar-benar beriman, yakin dan percaya kalau rezeki Tuhan itu maha luas, dan mengingkari serta menjauhi gaji yang dijatah tiap bulan oleh manusia lain.

wa tawashaw bil haq
serta saling menasihati untuk kebenaran
yaitu dengan jalan berinvestasi dalam wirausaha yang tepat waktu dan tepat lokasi, serta menganjurkan orang lain untuk berwirausaha yang jujur, benar, dan tidak merugikan konsumen.

wa tawashaw bishshabr.
(dan saling menaehati untuk kesabaran)
Yaitu mereka yang berwirausaha dengan cara berinvestasi dengan penuh kesabaran dan keuletan dalam wirausahanya, tidak buru-buru ingin mendapatkan untung cepat.

Written by wisedan

Maret 19, 2010 at 2:44 am

Ditulis dalam Uncategorized

Khotbah di atas Meja Kerja: Kepada para kaum kafir di seluruh jagat

leave a comment »

Memilih berlama-lama menjadi karyawan (baik negeri maupun swasta) adalah bentuk tidak adanya iman kepada Tuhan. Ketiadaan iman ini, berakibat hilangnya rasa syukur atas potensi akal dan indera yang Dia anugrahkan. Dalam bahasa Arab lawan kata syukur adalah kufur. Kufur, kafir, dan kekafiran berasal dari akar kata yang sama. Orang yang tidak beriman juga disebut dengan orang kafir.
Saya tidak bermaksud menarik pengertian agamawi di sini. Secara etimologi kata kafir berarti menutupi kebenaran, mengingkari kebenaran yang terang. Jika anda mengingkari bahwa matahari terbit di ufuk timur, anda bisa disebut mengkafiri kebenaran.

Sekarang saya menegaskan bahwa menjadi karyawan adalah bentuk kekafiran.

Ini argumentasinya.

Kita mulai dari gaji yang Anda terima. Berapa gaji yang Anda terima tiap bulan? Tentu tetap, mungkin ada pertambahan 10-20 persen tiap tahun yang menyesuaikan inflasi, dan ada tambahan THR dan bonus. Tapi siapa yang menentukan rezeki yang Anda peroleh itu? Tentu manusia lain, atasan anda, atau pemilik perusahaan. Anda telah menggantikan peran Tuhan sebagai pemberi rezeki dengan manusia. Anda membatasi rezeki yang bisa Anda peroleh tiap bulan.

Anda lihat penjual koran dan majalah di pinggir jalan yang selalu Anda lewati. Berapa pendapatan mereka per hari? Normalnya perhari mereka mendapatkan penjualan 2 juta rupiah. Jika margin keuntungan yang diambil sebesar 20 persen, per hari mereka bisa mendapatkan 400 ribu rupiah, per bulan 12 juta rupiah. Bagaimana jika dia membuka banyak outlet penjualan koran, sampai 5 misalnya. Tinggal kita kalikan sendiri.

Penjual koran ini adalah orang yang benar-benar beriman. Yakin dan percaya bahwa rezeki Tuhan maha luas di alam raya. Penjual koran tidak menjadi budak atau hamba sahaya manusia lain. Kau! Karyawan bedebah, pecundang pengecut, kafir! Kenapa kau menjadi kafir? Kau mengingkari bahwa rezeki Tuhan itu luas, tapi kau memilih menjadi hamba manusia, menggadaikan waktu berhargamu untuk uang yang dijatah. Sungguh menggelikan, dan mengenaskan.

Ingat, satu hal lagi:
“Jangan jadikan manusia lain yang mengatur rezeki yang kau peroleh, jangan jadikan manusia lain yang mengatur waktu hidupmu. Bekerjalah untuk dirimu sendirilah, jadilah wirausaha, hanya Tuhan tempatmu meminta rezeki, bukan manusia lain yang mengatur dan menentukan berapa rezekimu. Pikirkan dan bekerjalah untuk usaha yang kau miliki sendiri, biarpun hanya berjualan di kakilima. Berimanlah kepada Tuhan, usahamu itu akan besar dan semakin besar usahamu itu nanti, kau akan semakin punya waktu luang untuk keluargamu. Biarpun seribu tahun kau menjadi karyawan, kehidupanmu akan tetap seperti itu-itu saja. Walaupun kau menjadi manager, kau tak ubahnya pembantu rumah tangga, bedanya hanya kau berdasi, diberikan mobil dinas, mungkin tunjangan aneka macam, tapi kau bukanlah tuan bagi dirimu sendiri, kau menghambakan diri pada manusia lain.. Pedagang kakilima itu jauh lebih terhormat dan berdaulat sebagai manusia merdeka ketimbang dirimu.. Kau karyawan bedebah, hanya sibuk membuat powerpoint, mempresentasikan keuntungan dan penjualan dan uang orang lain..

“penjualan kita tahun ini adalah sebesar 500 Milyar…” teriak seorang karyawan berkepala botak di meeting akhir tahun.
Hai karyawan paling idiot, “kita” siapa dalam teriakan mu diatas, uang 500 milyar itu dimana? Ketika kau pulang dari meeting itu, kau sadari bahwa di dompetmu hanya ada uang 50 ribu, dan tagihan kartu kredit yang harus dibayar. Tidakkah kau sadar? Apakah kau akan sadar ketika kau diberi tepuk tangan bahwa kau memasuki masa pensiun di usia 60 tahun? Ketika itu yang kau punyai hanya rumah tua kecil di pinggiran kota yang sudah kau cicil selama 20 tahun, dan sepedamotor butut? Rumah yang sebentar lagi akan kau jual demi biaya kuliah anak-anakmu? Sementara si pemilik perusahaan itu memberimu ucapan selamat, bahwa kau adalah karyawan berdedikasi, paling rajin, disiplin, bekerja keras.

Sadarlah wahai karyawan, kau ditipu mentah-mentah! Tapi saat itu, sudah sangat terlambat. Kau tinggal menunggu ajal. Tragis.

Sekarang persiapkan dirimu. Bertobatlah. Tobat dari kekafiran. Menjadi karyawan adalah menjadi kafir. Tidak peduli apapun agamamu.

Written by wisedan

Maret 15, 2010 at 8:33 am

Ditulis dalam Uncategorized