Wisedan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Khotbah di atas Meja Kerja: Kepada para kaum kafir di seluruh jagat

leave a comment »

Memilih berlama-lama menjadi karyawan (baik negeri maupun swasta) adalah bentuk tidak adanya iman kepada Tuhan. Ketiadaan iman ini, berakibat hilangnya rasa syukur atas potensi akal dan indera yang Dia anugrahkan. Dalam bahasa Arab lawan kata syukur adalah kufur. Kufur, kafir, dan kekafiran berasal dari akar kata yang sama. Orang yang tidak beriman juga disebut dengan orang kafir.
Saya tidak bermaksud menarik pengertian agamawi di sini. Secara etimologi kata kafir berarti menutupi kebenaran, mengingkari kebenaran yang terang. Jika anda mengingkari bahwa matahari terbit di ufuk timur, anda bisa disebut mengkafiri kebenaran.

Sekarang saya menegaskan bahwa menjadi karyawan adalah bentuk kekafiran.

Ini argumentasinya.

Kita mulai dari gaji yang Anda terima. Berapa gaji yang Anda terima tiap bulan? Tentu tetap, mungkin ada pertambahan 10-20 persen tiap tahun yang menyesuaikan inflasi, dan ada tambahan THR dan bonus. Tapi siapa yang menentukan rezeki yang Anda peroleh itu? Tentu manusia lain, atasan anda, atau pemilik perusahaan. Anda telah menggantikan peran Tuhan sebagai pemberi rezeki dengan manusia. Anda membatasi rezeki yang bisa Anda peroleh tiap bulan.

Anda lihat penjual koran dan majalah di pinggir jalan yang selalu Anda lewati. Berapa pendapatan mereka per hari? Normalnya perhari mereka mendapatkan penjualan 2 juta rupiah. Jika margin keuntungan yang diambil sebesar 20 persen, per hari mereka bisa mendapatkan 400 ribu rupiah, per bulan 12 juta rupiah. Bagaimana jika dia membuka banyak outlet penjualan koran, sampai 5 misalnya. Tinggal kita kalikan sendiri.

Penjual koran ini adalah orang yang benar-benar beriman. Yakin dan percaya bahwa rezeki Tuhan maha luas di alam raya. Penjual koran tidak menjadi budak atau hamba sahaya manusia lain. Kau! Karyawan bedebah, pecundang pengecut, kafir! Kenapa kau menjadi kafir? Kau mengingkari bahwa rezeki Tuhan itu luas, tapi kau memilih menjadi hamba manusia, menggadaikan waktu berhargamu untuk uang yang dijatah. Sungguh menggelikan, dan mengenaskan.

Ingat, satu hal lagi:
“Jangan jadikan manusia lain yang mengatur rezeki yang kau peroleh, jangan jadikan manusia lain yang mengatur waktu hidupmu. Bekerjalah untuk dirimu sendirilah, jadilah wirausaha, hanya Tuhan tempatmu meminta rezeki, bukan manusia lain yang mengatur dan menentukan berapa rezekimu. Pikirkan dan bekerjalah untuk usaha yang kau miliki sendiri, biarpun hanya berjualan di kakilima. Berimanlah kepada Tuhan, usahamu itu akan besar dan semakin besar usahamu itu nanti, kau akan semakin punya waktu luang untuk keluargamu. Biarpun seribu tahun kau menjadi karyawan, kehidupanmu akan tetap seperti itu-itu saja. Walaupun kau menjadi manager, kau tak ubahnya pembantu rumah tangga, bedanya hanya kau berdasi, diberikan mobil dinas, mungkin tunjangan aneka macam, tapi kau bukanlah tuan bagi dirimu sendiri, kau menghambakan diri pada manusia lain.. Pedagang kakilima itu jauh lebih terhormat dan berdaulat sebagai manusia merdeka ketimbang dirimu.. Kau karyawan bedebah, hanya sibuk membuat powerpoint, mempresentasikan keuntungan dan penjualan dan uang orang lain..

“penjualan kita tahun ini adalah sebesar 500 Milyar…” teriak seorang karyawan berkepala botak di meeting akhir tahun.
Hai karyawan paling idiot, “kita” siapa dalam teriakan mu diatas, uang 500 milyar itu dimana? Ketika kau pulang dari meeting itu, kau sadari bahwa di dompetmu hanya ada uang 50 ribu, dan tagihan kartu kredit yang harus dibayar. Tidakkah kau sadar? Apakah kau akan sadar ketika kau diberi tepuk tangan bahwa kau memasuki masa pensiun di usia 60 tahun? Ketika itu yang kau punyai hanya rumah tua kecil di pinggiran kota yang sudah kau cicil selama 20 tahun, dan sepedamotor butut? Rumah yang sebentar lagi akan kau jual demi biaya kuliah anak-anakmu? Sementara si pemilik perusahaan itu memberimu ucapan selamat, bahwa kau adalah karyawan berdedikasi, paling rajin, disiplin, bekerja keras.

Sadarlah wahai karyawan, kau ditipu mentah-mentah! Tapi saat itu, sudah sangat terlambat. Kau tinggal menunggu ajal. Tragis.

Sekarang persiapkan dirimu. Bertobatlah. Tobat dari kekafiran. Menjadi karyawan adalah menjadi kafir. Tidak peduli apapun agamamu.

Iklan

Written by wisedan

Maret 15, 2010 pada 8:33 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: